Saling Berganti,terus berjalan…

Maret 31, 2007

Jangan risau dengan kesedihan dan segala bentuk perubahan di dalam kehidupan Anda. Saat ini, mungkin dengan mudah Anda mengubah kesedihan dengan kegembiraan. Tapi percayalah, bahwa keduanya dirancang hadir secara bergantian, saling isi dan berlanjut bagai suatu siklus yang tidak pernah berhenti. Sedih dan Gembira bagaikan malam dengan siang, saat hari ini gembira, mungkinbesok menjadi sedih.

Kedua-duanya menjadi warna dalam hidup. ini adalah kekayaan rasa dan jiwa sebagai manusia. Saat sedih, jangan terlampau larut, saat gembira jangan terlalu lupa. Pada akhirnya, banyak orang akan mengatakan bahwa ‘tinggalkan kesedihanmu dan sambutlah kegembiraan’.

Sedih dan gembira adalah suatu karunia, suatu pelajaran hidup dari Tuhan Yang Esa.


Lebih Suka Tertawa atau Jadilah sang Bijak

Maret 5, 2007

Seperti di ceritakan seseorang kpd Jon (katanya jgn sebut nama):
mengapa orang lebih suka menertawakan karena suatu kesalahan daripada memberi nasihat. mengapa orang pergi jauh-jauh untuk menceritakan kebusukan dan kekurangan seseorang (memang kadang kala ada hal-hal yang prinsip untuk dijadikan ukuran hitam/putih, tadi ternyata lebih cenderung kepada rasa iri, dendam dan sebagainya, ada motivasi tertentu, ada hasrat hitam tertentu).

Temen kita satu punya kendala, bagaimana memberikan pendapat tentang seseorang, tetapi objektif. sedangkan dia pernah punya keterlibatan secara emosional.
saran saya begini :
1.pakai ukuran : bahwa pendapat itu adalah kesaksian yang benar (saya tidak punya kata-kata lain yang lebih elegan) dijawab :->> dengan mata dan kepala sendiri .
maksudnya adalah, kalo sekedar info yang ndak jelas, justru tidak baik, bisa disebut fitnah….
2. untuk maksud apa, disampaikan?:–>> dia tuh temen gue….
3. kira2 temen loe itu udah tahu belum…hal2 dimaksud..?:–>>mungkin tahu….
4. infonya kira2 bisa jadi dasar pertimbangan ndak, maksudnya keadaan jadi memburuk atau membaik…:–> mungkin keadaan tetap, tapi bisa juga memburuk..(dikomporin…jadi panas..deh..).

kesimpulan saya (aduh..sok analitis gitu..loh..)
1. ndak perlu cerita dan berpendapat, simpan saja.
2.hal yang buruk, simpan dan pendam dalam-dalam, yang positif, kibarkan.
3.banyak hal-hal yang selesai tanpa dibahas, selesai tanpa diskusi dan tertelan waktu.
4. jangan berpikir anda menolong sang kawan dengan dengen membeberkan kartu truf-nya dia (objek amatan), sebab cepat atau lambat sang kawan akan tahu juga.
5. jangan berpendapat, bila tidak diminta
6. bila diminta, biarkanlah apa2 disimpulkan olehnya sendiri.

{rada ribet, nulisnya, tapi ndak apa2, sebab mau ngasih empirisnya, msh rahasia seh…, mudah-mudahan maksudnya kena, kalo belum, ya..namanya belajar..}


Salah Mengagumi

Maret 5, 2007

Sangat wajar apabila saya, Anda atau siapapun pernah mengagumi seseorang. biasanya ini menyangkut selera dan kebiasaan. ini masalah hati. ( aa Gym berulang-ulang mengatakan bahwa hati-lah yang harus selalu diurus).
kekaguman biasanya disimbolkan, suatu rupa fisik, bentuk tertentu, maupun abstraksi yang biasa dirasakan. (aduh, betapa ribetnya menggambarkan, hanya saja saya ingin mengatakan bahwa itu muncul dengan sendirinya). Anda merasa kagum dengan ilmuan, pelukis, praktisi politik, ustad, kyai dll. semua itu kembali kepada hati dan perasaan diri sendiri.

pertanyaanya adalah : ternyata kekaguman itu keliru. apa yang terjadi. ternyata apa-apa yang ada dalam benak saya atau anda sungguh-sungguh keliru dan tidak pada semestinya. ternyata pikiran-pikiran kita (bolehlah saya gunakan kata ini ) tidak menjadi semestinya. ini pernah dialami seseorang, bahwa banyak hal yang ternyata sungguh-sungguh tidak layak untuk dijadikan kekaguman.
sderhananya begini :
Seorang pengarang hebat dan dikagumi banyak orang, termasuk salah satu muridnya, ternyata muridnya melihat dengan kepalanya sendiri ybs mendatangi orang pintar. (dukun, paranormal dsb), jelas murid tersebut, sangat kaget, karena orang yang ia kagumi sama sekali tidak memiliki kepercayaan diri dan tidak berkharisma seperti yang ia angan2kan. ia kecewa, ia mundur menjadi murid, ia menganggap bahwa gurunya tidak layak. ia bukan tokoh yang layak untuk dikagumi atau diambil ilmunya. ia mencari guru yang lain.

satu cerita lagi. kagum berat (naksir berat…he..he..), percaya ndak bahwa orang bisa salah. bisa keliru, bisa membuang banyak waktu, bisa berbuat bodoh, lucu banget, yang pada akhirnya ia akhirnya tahu bahwa sosok itu tidak benar-benar layak untuk dikagumi. (kalau pembaca mau sharing silahkan isi komentar atau email jonmulya@gmail.com.). mungkin ada istilahnya “bertemu dengan orang yang salah”. (saya comot ya…kata2 ini..)

Terus terang, sebagai manusia saya ingin banyak belajar dari semua orang. sangat prinsip bahwa siapapun itu membutuhkan penghargaan. saya sama sekali tidak ragu-ragu untuk mengatakan bahwa ‘dandanan Anda rapi’, atau ‘dasinya bagus’ ‘model rambutnya indah, sehat’, dsb. percaya deh, seorang Bidadari atau Pangeran-pun membutuhkan ini. (tks, psiko-ku, yang sudah suka rela kasih info ini).

maksud dari semua tulisan itu adalah, intropeksi diri , (loh kok jadi kesini). orang bisa salah, bisa keliru, bisa jatuh, tetapi bukan utntuk yang kedua kali, ketiga kali dan seterusnya, cukup sekali.