Memahami Tarif Pulsa

Februari 7, 2008

Terus terang susah sekali memahami tarif pulsa. Iklannya kadang bikin hati jengkel. Bagaimana tidak iklannya bilang murah tapi harus ini dan itu. Harus begini, ada syarat, ada ininya, harus begitu dulu dsb.

Pelanggan dipaksa (secara tidak langsung) untuk mencobai ketrtarikan pada iklan yang menawarkan kemurahan dan kemudahan tadi. Terus syaratnya ditulis pada iklan kecil sekali. Tidak terbuka (atau sengaja) agar tidak terlihat.

Penjualan seperti ini. Menjengkelkan. Jangan-jangan sami mawon.


Memulai Liburan

Februari 5, 2008

Ada apa dengan liburan. Kadang sudah saatnya untuk mengambil libur dan melaksanakan dengan baik-baik. (waduh..liburan aja dulaksanakan?) tapi begitulah manusia. Bukankah hidup ini harus seimbang dan tidak boleh timpang sebelah.

Jadi mau liburan kemana neh?
“waduh, kalau liburan dan jalan-jalan diwaktu tanggal merah malah tidak jadi liburan deh, habis rame banget”
“walah, mbok ya, nyari tempat yang lain gitu”
“sudah, sudah liburan , kok. Tidur cukup juga sudah liburan”
“Mancing di laut, tuh baru namanya liburan”

Banyak persepsi orang tentang liburan. Ada juga yang tidak mau liburan :
” sendainya sabtu minggu itu hari kerja, tentu penghasilan saya akan bertambah” ( walah, siapa neh yang suka banget kerja kayak gini, income -nya banyak banget, dibela-belain mau kerja).

“kalau saya mas, liburan itu kalau hp saya sudah dimatikan, baru namanya liburan.
Terus bagaimana dengan Anda.


Hormat Senjata kok bisa serempak ya?

Februari 3, 2008

Dulu saya heran, mengapa pasukan yang begitu banyak dalam suatu upacara dapat melakukan hormat senjata, istirahat di tempat, dan gerakan lainnya dengan rapi dan kompak tanpa salah satu gerakanpun, tidak ada yang mendahului atau tertinggal gerakan. Bagaimana bisa?

Akhirnya semua terjawab ketika saya mengikuti Pendidikan Pertama Perwira Polri Sumber Sarjana / PPSS di Lemdik Akpol Semarang.

Ternyata kuncinya terletak pada setiap gerakan yang mempunyai hitungan. Satu gerakan dihitung satu hitungan. Misalkan hormat senjata itu ada 2 gerakan, maka ada 2 hitungan yang dilakukan setiap anggota pasukan, tentu saja hitungan tersebut tidak disuarakan tetapi dilakukan dalam hati. Dengan demikian, anggota pasukan yang tidak berkonsentrasi pada aba-aba saat akan melakukan gerakan dan hitungan sekaligus gerakannya akan tertinggal. Satu anggota pasukan saja yang keliru gerakan atau tertinggal gerakan akan mudah terlihat sebab lain sendiri dengan .gerakan pasukan.

Bisa jadi pasukan yang sudah berdiri lama dalam suatu upacara, konsentrasinya menurun, mengantuk atau bahkan tertidur berdiri. Bagaimana kalau ada aba-aba dalam kondisi tersebut? Solusinya gampang. Anggota pasukan yang berada ditengah-tengah pasukan akan mengingatkan dengan bisik-bisik, sampai anggota yang kurang konsentrasi tadi kembali siap melakukan gerakan sesuai aba-aba. Percayalah bahwa bisik-bisik tersebut tidak akan terdengar oleh peserta upacara yang berada di tenda undangan ataupun Inspektur Upacara. Itulah mengapa Komandan Upacara ketika memberikan aba-aba dipanjangkan suaranya untuk memberikan kesempatan pasukan bersiap-siap melaksanakan gerakan..

Anggota pasukan yang berada di barisan depan sama sekali tidak boleh mengantuk, tertunduk, apalagi tertidur. Bagaimana caranya? Gampang, pertama gerak-gerakan saja ujung jari kaki atau gerakan ujung lidah ke langit-langit mulut. Cara kedua lihat pemandangan yang ada di depan pasukan dan ikuti dengan gerakan mata tanpa gerakan kepala dijamin tidak akan mengantuk.


Pada Halam Depan Sampul Novel

Februari 3, 2008

Menjelang sarapan saya membuka Novel lama. Pada sampulnya tertulis dengan tinta hitam dan tidak bertanggal. Hanya saja menyebutkan Desember 2007. Tulisan tangan seseorang yang saya kenal :

Manusia diciptakan berpasangan
Apa salah untuk jatuh cinta pada seseorang.
Mencintai bukan berarti memiliki..
Bila cinta datang maka pujangga akan mengatakan :

“jangan pernah salahkan dirimu untuk jatuh cinta, sebab itu adalah pemberian dari Tuhan. Bersyukurlah bahwa kita masih bisa merasakan jatuh cinta.
Nikmatilah dan janganlah kau terluka karenanya.”


Sekitar Wijaya

Februari 2, 2008


Rasanya memang kurang pas kalau saya selalu posting foto-foto dan menulis sedikit komentar. (sepertimya sudah kena wadah narc**) . Apa daya cara ini adalah yang paling mudah untuk memeriahkan blog ini. Gambar diambil di suatu tempat di Wijaya Jakarta Selatan. Gambar ini juga sebenarnya ada beberapa yang teman yang lain namun rasa-rasanya kurang pas kalau saya tampilkan tanpa seizin mereka. Jadi saya potong. Biarkanlah.

Rasanya cantik juga kalau ada pembaca juga yang berkenan menyumbangkan foto-fotonya baik tentang objek yang menarik atau foto-foto Anda. Syukur2 ada saya di foto Anda tersebut. Tks.


Ikut Merasakan

Februari 2, 2008

Bingung juga terkadang mau menulis apa. Bukankah tulisan harus bercerita banyak daripada sebuah gambar?Gampang sajalah, tinggal posting foto dan selanjutnya saya bercerita tentang foto tersebut. Mudah saja.

Gambar tersebut menggambarkan kaum pinggiran. Pekerjaan mereka tidak jahat, tetapi selalu dikaitkan dengan ukuran kepemilikan harta benda. (lagi-lagi kita bicara tentang uang…gubrak).

Berturut-turut dari kiri seorang sales, seorang pemulung, seorang tukang parkir, seorang tukang cat, seorang tukang sapu (walah.., malah mainan perekam gambar ), seorang pengemudi (mayasari apa ppd ya), seorang tukang koran dan seorang yang kurang jelas. (ndak kelihatan difoto).

Hidup memang harus diperjuangakan. Tetapi adakalanya perjuangan itu tidak selalu menuai hasil yang maksimal. Contoh saja tukang sol. Anggap saja tarif sol sepatu Rp.5000,- berapa penghasilan tukang sol dalam sehari? kalau ada sepuluh orang yang menggunakan jasanya maka uang yang dapat ia simpan sejumlah Rp.50 rb. Terus lanjutannya, apakah dalam satu hari sudah pasti ada pengguna jasanya?dimana ia harus mencari pelanggan? (kayaknya jarang sekali ya sandal sepatu model terbaru yang disol, sebab rata-rata sudah menggunakan lem yang kuat.

Mau jadi tukang sol atau pemulung? Pasti tidak mau. Tapi kalau sekedar mencoba bagaimana? agar ikut merasakan sensasi dan getar-getar lingkungan yang kurang menguntungkan, bisa dicoba tuh. Memang berat. Sesekali cobalah.
Saya sudah.


Cocoknya Model Iklan neh

Januari 29, 2008

Foto ini diambil di kota Bengkulu. Di sebelah saya adalah AKP Faisal Zulkarnaen (pada foto masih berpangkat Iptu). Rekan saya ini ganteng banget. Saya tidak bohong. Cocoknya jadi model iklan. Saya ingat betul dulu, waktu masih bersama-sama di Semarang, 2 hari setelah latihan renang, kulit punggung rekan saya ini sebagian mengelupas saking teriknya matahari pada waktu itu dan mungkin juga karena kahalusan kulitnya. (pantes yang naksir banyak banget).
Pribadinya sangat menyenangkan.


Berjambang ( old )

Januari 29, 2008

Desain rambut saya mengikuti model lama, pakai jambang. Pada waktu itu sangat jarang sekali pria berjambang, apalagi di kantor kami. Jadi betul-betul terlihat agak sedikit tua. Model ini saya gunakan sudah hampir 1,5 tahun. Setiap kali potong rambut, saya selalu berpesan agak jambang jangan dipotong. “Tipiskan saja mas” kata saya. Sebenarnya saya juga pengin sekali mengecat rambut saya, tetapi saya tidak nyaman dengan prosesnya. Ribet. Bau-bau kimia gitu. Sengaja juga saya cukur kumis dan jenggot. Kalau tidak waduh…repot..deh.


Jangan Lewat Polisi

Januari 22, 2008

Sebuah cerita yang sangat menarik, niat baik dan ketulusan ditanggapi secara berbeda.
Sumber : dari email temen (kumpulan cerita lucu).
==
Rio seorang bocah yang sangat ingin melanjutkan sekolah, tetapi orang tuanya tidak mempunyai uang untuk membiayai sekolahnya. Lagipula ibunya yang sedang sakit membutuhkan biaya untuk membeli obat.

Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada Tuhan :


Kepada Yth

Tuhan di Surga
Tuhan yang baik, saya mau melanjutkan sekolah, tapi orang tua saya tidak punya uang. Ibu saya juga sedang sakit, mau beli obat. Tuhan saya butuh uang Rp 20.000 utk beli obat ibu, Rp 20.000 untuk membayar uang sekolah, Rp 10.000 untuk membayar uang seragam, dan uang buku Rp 10.000.
Jadi semuanya Rp 60.000
Terima kasih Tuhan, saya tunggu kiriman uangnya.

Dari : Rio.

Rio pun pergi ke kantor pos untuk mengirim suratnya. Membaca tujuan surat tersebut, petugas kantor pos merasa iba melihat Rio, sehingga tidak tega mengembalikan suratnya. Bingung mau di kemanain surat
itu, akhirnya petugas pos itu menyerahkannya ke kantor polisi terdekat.

Membaca isi surat itu, Komandan polisi merasa iba dan tergerak hatinya utk menceritakan hal tsb kepada anak buahnya. Walhasil, para polisi pun mengumpulkan dana utk diberikan ke Rio, tetapi dana yang terkumpul hanya Rp 55.000,-

Sang Komandan pun memasukan uang yang terkumpul ke dalam amplop, menuliskan keterangan : ” Dari Tuhan di Surga ” dan menyerahkan ke anak buahnya utk di kembalikan ke Rio.
Menerima uang tsb, Rio merasa sangat senang permintaannya terkabul, walaupun yang di terima hanya Rp 55.000,-. Rio pun bergegas mengambil kertas dan pensil, dan mulai menulis surat lagi :

” TUHAN LAIN KALI KALO MAU KIRIM UANG, JANGAN LEWAT
POLISI, KARENA KALO LEWAT POLISI DI POTONG RP 5.000,-


Mengembangkan Layar

Januari 21, 2008

Tentu saja hasil diskusi kemarin ditempat rekan kami Y. Setiawan banyak memulai kepada hal-hal yang sangat progresif. Dua dari rekan kami sudah merencanakan untuk menempuh hidup baru dalam tahun ini. Tanpa tersadari juga oleh kami bahwa ternyata masih banyak juga yang masih belum memulai kehidupan baru. Dan artinya memang belum menembus 50% dari jumlah teman-teman kuliah.

Beberapa masih menakar dan memprioritaskan yang lain. Beberapa orang masih sibuk dengan kegiatan yang lain. Ya, hidup hanya soal pilihan.